A Treasure Moment

September 7, 2009 chandramde 7 comments

Nguuuiiiing… Suara sirine tanda pulang kerja telah berbunyi. Waktu menunjukkan pukul 16.00 tepat. Tumben? Biasanya orang personalia ngebelnya telat? Ah, mungkin karena sama-sama lagi puasa, jadinya pengen cepet-cepet pulang juga, hihihi…

meichanbathSebulan terakhir ini aku memang selalu ingin cepat pulang. Aku ingin segera sampai di rumah. Aku mau mandiin anakku, Meichan. :) Meichan sekarang umurnya sudah empat bulan. Jadi tulang dan ototnya sudah makin kuat. Kini aku berani mandiin anakku. Ini dia nih: A Treasure Moment!

Prosesnya (versi kami ini) sangat mudah dan sangat menyenangkan. Pertama-tama aku siapkan baskom berisi air hangat dan kain lap untuk menyeka. Trus aku siapkan perlak di atas kasur. Selanjutnya, aku ambil Meichan dan meletakkannya di atas perlak dalam posisi telentang. Biasanya doi mulai kiyayal-kiyayal kegirangan. Ngerti kalo mau dimandiin… :)

Setelah itu mulai deh aku lepas pakaiannya satu persatu sampai hanya dirty diaper aja yang tersisa. Langkah selanjutnya adalah berteriak memanggil Meme.

“Meeeee, udah…”, begitulah biasanya.

Meme pun langsung melakukan the hardest part of the process, hihihi… Sementara Meme menyelesaikan tugasnya, aku pun menyiapkan air hangat dalam bak mandi. Lima sampai sepuluh menit kemudian biasanya aku akan mendapat panggilan biasa (baca: mesra) dari Meme.

“Paaaaa, udah…”, begitulah biasanya.

Aku pun menerima tongkat estafet dari Meme dengan semangat. Kini giliranku membilas Meichan dalam bak mandi. Ini dia nih: A Treasure Moment!

Proses pembilasan ini tidak memakan waktu lama, sepuluh menit maksimum. Menit-menit inilah yang selamanya akan jadi kenangan indah bagi kami. Telentangkan Meichan di dalam bak mandi, trus bilas dengan penuh kelembutan. Gosok lipatan-lipatan dan pastikan semua sabun dan sampo telah habis terbilas.

Kecipak, kecipak, kecipak… Begitulah suara yang dihasilkan kaki anakku ketika memancal-mancal air sambil sesekali melakukan gerakan menjejak dinding bak sehingga menghasilkan sedikit gerakan meluncur yang mengundang tawa dan kekhawatiran secara bersamaan. :)

Proses selanjutnya adalah mengentas, mengeringkan dan mendandani. Untuk proses akhir ini kembali aku memberikan tongkat estafet kemesraan ke Meme.

Well, let’s create our own treasurable moment everyday. It’s free and can be created anytime, anywhere. All we need is love, the most important ingredient of our happy life.

Have a nice day… :)

By Holding My ARMs

June 22, 2009 chandramde Leave a comment

Seringkali aku bertanya pada diriku yang lain, Chandra MDE yang satunya lagi, apakah engkau seorang laki-laki, apakah engkau tangguh, apakah engkau seorang suami yang baik, apakah engkau seorang ayah yang baik, apakah engkau seorang anak yang berbakti kepada orang tua, apakah engkau seorang… ahh… atau bisa juga huf… seperti yang biasa dilakukan seorang teman, hehehe…

Mengapa ahh, mengapa huf? Karena, obviously, seringkali juga aku tidak puas dengan jawaban yang diberikan diriku yang lain itu, Chandra MDE yang satunya lagi. Tidak cukup kejadian untuk mendukung jawaban iya atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tidak cukup catatan sejarah yang dapat dijadikan bukti akan kelelakian, ketangguhan, kebaikan, dan kehebatan seorang Chandra MDE. Hufagain.

Frustration? Good. Use frustation as a motivator. Frustration is an indication that you know you should be or could be… DOING MORE! So, DO MORE! Kalo ditambah TALK LESS didepannya maka jadi iklan produk isep-isep bernikotin, hihihi…

I may not be a good man
But by holding my ARMs, I’ll be the best

I may not be a strong man
But by holding my ARMs, I’ll be the strongest

I may not be a rich man
But by holding my ARMs, I’ll be the richest

I may not be a lucky man
By holding my ARMs, I’ll be the luckiest

My ARMs ain’t big, they are small
My ARMs ain’t strong, they are weak
My ARMs are cute
My ARMs are smooth

Ananda Rafi Maulana Chandra
Adinda HumaiRa Meika Chandra
My ARMs…
The strongest arms I ever need to lift-up the world…

Categories: Me and Mokeez

The North Star

December 19, 2008 chandramde 4 comments

“Terima kasih…”, ucapannya terasa sangat tulus terdengar di telingaku.

“Bukalah…”, pintaku menganjurkan.

Perlahan iapun membuka kotak perhiasan hijau lumut berbentuk bulat oval di tangannya. Tersirat getaran yang tak bisa kumaknai ketika ia melakukan itu. Tampak sedikit kaget ketika ia melihat isi kotak perhiasan tersebut. Sesaat kemudian senyum manisnya mengembang. Sambil menatapku, ia berkata lembut.

“Terima kasih…”

Kembali ketulusan tanpa dibuat-buat itu mengalir dari telinga menghunjam ke dadaku.

Kuhampiri dia dan kuraih kalung perak dengan liontin berbentuk bintang dari dalam kotak. Sambil mengalungkan kalung ke lehernya, aku berkata dengan lembut di telinga kanannya.

“Ini Bintang Utara. Bintang yang sinarnya paling terang dilangit malam. Ia tak pernah bergeser tempat. Bintang yang jadi penunjuk arah bagi yang tersesat. Bintang pemandu.”

Aku kembali berdiri dihadapannya setelah selesai memasangkan kalung Bintang Utara tersebut. Kutatap matanya lekat-lekat dan kuraih kedua tangannya.

“Bersediakah kau jadi pemandu bagiku dan bagi anak-anak kita kelak?”

Keheningan yang hanya sesaat kurasakan panjang tak berkesudahan. Tanpa mengedipkan mata, ia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Setetes luh meleleh dari mata kirinya.

“Terima kasih…”

Hanya itu kalimat yang terucap dari mulutku. Setelah itu hening. Tak ada kata-kata yang terucap, karena saat itu kata-kata tak lebih bermakna daripada diam.

Malam itu langit cerah. Bintang Utara memancarkan sinarnya megah. Malam itu aku mendapatkan pemandu. Bintang Utara yang akan menemani setiap langkah dan hariku. Terima kasih, Tuhan…

Categories: Me and Meme, Me and Myself