Me and Miranda – Part One
Miranda dan aku sudah bersama sejak 2001. Cantik, pintar, tegas, ulet, penurut hanyalah sebagian dari spesifikasi menawan yang dimiliki Miranda. Aku masih teringat bagaimana Miranda menemani dan membantuku menyelesaikan skripsi S1 Elektro-ku. All the way from making the proposal to the final comprehensive test. Thanks, Mir…
Miranda juga yang mendampingiku saat aku cari kerja, juga ketika cari uang. Kesediaannya untuk senantiasa membantuku, menghiburku, meluangkan waktu untukku, menampung keluh-kesah dan ceriaku, menghilangkan penat pikiranku, dan juga menampung ide-ideku, membuatku merasa nyaman ketika bersamanya. Ketenangan emosi dan sikapnya membuatku merasa aman didekatnya.
Di depan Miranda aku gak takut kelihatan jelek. Aku gak takut kelihatan bodoh. Aku gak takut salah. Aku gak takut bilang aku takut. Aku juga gak malu padanya ketika kelepasan kentut. Miranda menerima apa adanya diriku.
A person’s highest happiness is found in the bestowal of benefits on those he/she loves; love finds its most natural and spontaneous expression in giving.
Demikianlah, I feel blessed having Miranda. Aku merasa mendapat anugerah dengan segala yang telah Miranda berikan padaku… unconditionally. Aku cuek, aku marah, aku jengkel, aku sedih, aku butuh, aku bosan, Miranda stays the same and she always will…
That’s all, Folks. For now…
leave a comment