Me and Miranda – Part Two
2004, pertengahan tahun…
Miranda masih cantik, masih pintar, masih penurut, masih anggun. Masih setia menemaniku, membantuku, menghiburku. Aku? Aku makin pintar, makin berwawasan, makin banyak keinginan, makin banyak kebutuhan. Mungkin karena itulah seringkali aku dan Miranda tidak lagi ‘sejalan’. Miranda selalu berkata “Ini sudah paling cepat!” ketika aku bilang itu kurang cepat. Miranda selalu berkata “Ini sudah paling baik!” ketika aku bilang itu tidak cukup baik. Aku ingin lebih…
Bulan September, tahun yang sama…
Aku bertemu Viena. Hubungan baik kami terjalin sejak kali pertama kami berkenalan. Sebaik ungkapan “Nah, ini baru baik!” dan “Nah, ini baru cepat!” yang tak bisa kudapatkan lagi dari Miranda. Aku merasa keinginan dan kebutuhanku terpenuhi bersama Viena.
Dengan kehadiran Viena, semangatku menyala lagi, gairahku membara kembali. Thanks, Vien…
To be continued…
leave a comment