Ni Hao…
Rubber Rheometer yang ada di ruang lab tempat Mualimin tiap hari mangkal (baca: bekerja, pen) sudah beberapa bulan tidak beroperasi. Pasalnya salah satu pemanasnya mati. Dari investigasi yang dilakukan oleh Detektif Chandraichi bersama asistennya Yuli Edogawa – keduanya dari Divisi Electrical Homicide – diperoleh kesimpulan bahwa matinya salah satu pemanas disebabkan oleh level tegangan sinyal pemicu rangkaian pemanas yang terlalu rendah.
Sebenarnya masalah tersebut telah muncul pertengahan tahun 2005 yang lalu, namun masalah tersebut teratasi dengan menambahkan resistor pull-up untuk menaikkan level tegangan sinyal pemicu tersebut. Sejak saat itu kondisi Rheo baik-baik saja, hingga akhirnya masalah yang sama muncul kembali dengan gejala yang lebih berat. Kini sinyal pemicu yang berasal dari CPU semakin rendah levelnya sehingga resistor pull-up bukan lagi merupakan solusi yang tepat.
Hmm… Gimana kalo ganti CPU? Exactly! Ganti CPU adalah solusi yang tepat. Dan akan lebih semarak lagi jika sistem operasi dan software aplikasinya di-upgrade dengan yang baru.
Setelah kontak ke PT. Murni Kusuma Jaya selaku distributor mesin, penawaran dari Ektron Taiwan pun aku terima. Karena masih kurang jelas dengan spesifikasi software yang ditawarkan, aku pun nelpon ke Taiwan. Setelah tat-tit-tut dialing, muncullah suara operator “Welcome to Ektron. Please press 703 for English service…” Aku pun mencet tombol angka 7-0-3. Tak lama kemudian muncul kembali suara operator “Ni Hao… xsh.” (‘xsh.’ adalah ‘dst.’ dalam bahasa Cina, hahaha…) Walaah, berharap dapet “Hello” gak taunya dapet “Ni Hao”. Sama sih artinya, tapi aku kan belum dikursusin Chinese, hehehe… Buru-buru aku menyahut, “Hello, good afternoon. This is Chandraichi speaking from Indonesia. May I speak with Mr. Hsi-Jung Chang?” Buru-buru juga Si Operator ‘Ni Hao’ menyahut, “Hold on, hold on…” dengan pengucapan yang samar khas Chinese.
Setelah menyampaikan maksudku dan menanyakan alamat email Mr. Hsi-Jung, aku pun bilang, “Babay…” lalu kututup teleponku. Btw, ‘Babay’ tuh masih satu rumpun prokem dengan ‘Bibeh’-nya The Changcutter. Hehehe…
Mesin CNC Monokotil
Masih inget pelajaran SD gak? Ada dikotil, yakni jenis tumbuhan berakar tunggang dan ada monokotil, yakni jenis tumbuhan berakar serabut. Aku kategorikan mesin CNC-ku ke dalam golongan monokotil karena kabel-kabel yang digunakan adalah kabel-kabel serabut berdiameter kecil. Saking kecilnya sehingga tidak layak digunakan untuk aplikasi mesin CNC. Tidak hanya satu – dua kabel, buanyak! Makanya aku sebut Mesin CNC Monokotil.
Akibat kabel monokotil inilah mesin buatan Cina ini bolak-balik mengalami masalah. Kabelnya bolak-balik putus! Putus, sambung. Putus lagi, sambung lagi. Putus-putus lagi, sambung-sambung lagi. Putus-putus lagi-lagi, sambung-sambung lagi-lagi. Hehehe… Akhirnya kuputuskan untuk melakukan rewiring. Gak semuanya sih, tapi hampir 75 persen dari keseluruhan kabel! Yah, lumayan lah, biar kelihatan kerja. Hehe…
Hari ini hari keempat sejak Rebo kemarin aku dan asistenku mengerjakan proyek evolusi mesin CNC monokotil menjadi dikotil. Tingkat keruwetan kabel akibat wiring asal pabrik yang asal-asalan, menjadikan kami super careful karena gak mau kerja dobel jika terjadi salah sambung.
Walhasil, evolusi telah berjalan lebih dari 90 persen, tinggal kabel Handwheel yang belum, karena memang prioritasnya paling rendah. Alhamdulillah… Karena ditunjang oleh akar tunggang, insya Allah Mesin CNC Dikotil ini bakal lebih tahan diterpa kerjaan. Cabut dulu, Coy!
leave a comment